LAIN

Kamis, 11 April 2013

Kehilangan adalah Ketika Memiliki


Suatu saat nanti, entah kapan
Jantungku akan berdetak begitu kencang
Memilin syaraf-syaraf
Menggulung kenangan serupa ombak
Tepat
Di pantai yang namamu jadi sebutannya

Suatu saat nanti, entah kapan
Suaraku akan jadi begitu keras
Meski tanpa toak juga alkohol
Memanggil namamu serupa adam menyeru hawa
Ketika
Diturunkan ke bumi

Suatu saat nanti, entah kapan
Aku menjadi benar memilikimu
Dan kehilangan adalah hantu tidur
Yang setiap malam mengusik mimpiku.

Suatu saat nanti, yang aku kira surga bukan lagi harapan dan neraka sudah menyenangkan.

Lasem, januari 2012

Jumat, 23 November 2012

Laut dan Seorang Perempuan


Demikian jika jaring dan ikan-ikan bercakap mengenai Bulan yang bulat tepat di tengah bulan yang sinarnya melebihi gegap gempita gemintang beralaskan lautan jawa dalam cahayanya sampai dasar. di seberang sana:
Beralas pasir berteduh malam, diantara wajah-wajah gurau. Perempuan itu terkantuk-kantuk di buai angin Bonang. Aku sedari tadi terpekur di gelas kopi, di rimba kata-kata penyair masa kini.

Laut dan perempuan itu, puisi :

Ia berjalan dari sauk ke sauk memungut garam mengepul hidup.  berjalan dari kota ke kota rimba  kata makna.

Sungguh sesungguhnya kau, Laut dan seorang Perempuan puisi di jantungku.


 Muhammad Akid AHA, Lelaki penyuka puisi
Yogyakarta, 2012